Pages

Selasa, 12 Juli 2011

Active Directory 2003 Bagian 1

Active Directory 2003 – layanan Directory pada infrastructure Jaringan Windows 2003 

Active Directory 2003 adalah suatu Directory Services dalam suatu jaringan computer Windows 2003 (atau 2000) yang digunakan sebagai Authenticasi dan Authorisasi untuk akses kedalam suatu resources jaringan baik resources yang berada pada local network maupun resources yang berada melintasi jaringan WAN global dalam suatu jaringan global corporasi. Active Directory 2003 merupakan technology yang sangat powerful dengan kemampuan yang tak terbatas.

Apa itu authenticasi? Kalau anda terdaftar dalam suatu system jaringan dan mempunyai account untuk masuk dalam suatu system jaringan itu, maka dengan account anda itu system akan meng-Authenticasi bahwa anda adalah valid user dalam system itu. Jika anda sudah masuk dalam system jaringan tersebut dan mengakses suatu layanan resource yang ada dalam jaringan tersebut, maka system memberikan authorisasi untuk akses resource tersebut. Anda bisa saja ter-authenticasi masuk dalam suatu jaringan akan tetapi belum tentu anda mendapatkan authorisasi untuk mengakses suatu sumber jaringan tertentu.


Active Directory 2003 adalah directory services yang menyimpan semua informasi yang diperlukan untuk dipakai dan juga mengelola object-2 system dalam lokasi terpusat untuk memudahkan dan menyederhanakan proses pencarian dan pengelolaan sumber-2 (resources) tersebut. Directory services dalam Active Directory 2003 memberikan suatu cara untuk menyimpan, mencari, mengamankan, dan mengakses informasi tentang suatu resources jaringan dalam suatu organisasi seperti:

1. Informasi user account
2. Informasi account computer (dalam suatu jaringan, komputer mempunyai account tersendiri untuk bisa diberdayakan dalam suatu jaringan, gak Cuma orang)
3. Groups, yang beranggotakan user account, atau bahkan group lainnya juga
4. Printer
5. Server
6. Resources
7. Suatu database yang menyimpan informasi tentang user-2nya dan dan juga konsumen lainnya (partner bisnis)
8. Centralisasi administrasi
9. Centralisasi atau decentralisasi administrasi resources, administrasi dibagi bisa saja menurut site atau menurut kewenangannya dalam structur organisasi
10. Menyimpan informasi dalam format yang aman

Bermacam-2 komponen dalam active directory 2003 digunakan untuk membangun suatu struktur directory untuk memenuhi kebutuhan dalam organisasi anda. Definisi dari Active Directory bisa dibagi dalam komponen Logical dan Physical.

Struktur Logical dari Active Directory 2003
  • Object, disimpan dalam database Schema
  • OU (Organizational Unit), memungkinkan user membagi domain kedalam unit-2 administrasi. Missal untuk user umum kita bukin OU dengan nama “General User” yang berisi user secara umum.
  • Domains, merupakan unit atom dari Active Directrory 2003
  • Tree, semua domain yang terhubung dalam suatu design namespace dalam Forest yang sama
  • Forest, suatu boundary dalam directory services
Striktur logical dari Active Directory 2003 dapat diilustrasikan dalam relasi berikut dari domain active directory, OU, dan juga Forest.

Active Directory 2003 Forest
Active Directory 2003 Forest

Domains
Unit inti dari struktur logical dalam Active Directory 2003 adalah Domain, yang bisa menyimpan jutaan object. Object-2 yg disimpan dalam domain bisa berupa user, printer, alamat e-mail, database, adalah yang dianggap vital dalam jaringan. Directory dibuat dari satu Domain ataupun lebih. Sementara satu domain bisa terbentang lebih dari satu lokasi physical. Bisa saja domain Sysneta.com terbentang dalam satu system jaringan yang ada di kantor pusat di Guinea dan didua kantor cabangnya juga dengan domain yang sama Sysneta.Com.

Domain dalam Active Directory 2003 berbagi karakteristik berikut:
  • Semua object dalam jaringan ada dalam Domain, dan setiap Domain menyimpan informasi hanya tetang object yang dikandungnya.
  • Suatu domain adalah suatu security boundary. Sementara untuk mengakses object domain dikendalikan oleh suatu access control list (ACL), yang mempunyai suatu permision yang berhubungan dengan object-2 tersebut. Sebagai contoh untuk Share Printer A hanya boleh diakses oleh Group Accounting saja, jadi kalau user Joko yang tidak masuk dalam Group A maka dia tidak bisa mengakses printer A.
OU (organizational Unit)
Active Directory 2003 -OU
Active Directory 2003 -OU


Suatu OU adalah suatu kontainer yang digunakan untuk mengorganisasi object-2 dalam suatu domain kedalam suatu kelompok administrasi logical. OU memberikan suatu makna untuk penanganan suatu tugas-2 administrasi, seperti administrasi tentamg user dan resources, karena OU ini merupakan scope terkecil dimana anda bisa mendelegasikan suatu authority administrasi. Suatu OU bisa berisi object-2 seperti user account, groups, computers, printers, applikasi, files shares, dan bisa juga berisi OU lainnya dalam domain yang sama.

Active Directory 2003 - Domain Tree
Active Directory 2003 - Domain Tree

Tree
Suatu Tree adalah suatu pengelompokan atau pengaturan secara hirarchi dari satu atau lebih Domain Windows Server 2003 yang anda ciptakan dengan cara menambah satu atau lebih Anak Domain (Child Domain) kepada Domain sekarang yang sudah ada. Domain-2 yang ada pada suatu Tree berbagi suatu namespace yang contiguous dan juga berbagi suatu struktur penamaan hiararchi.

Forests
Suatu forest adalah suatu pengelompokan atau suatu pengaturan secara hirarchi dari satu atau lebih domain Tree yang benar-2 independent. Forest-2 seperti ini mempunyai karakteristik seperti berikut:
  • Semua domain dalam suatu Forest berbagi suatu schema yang sama
  • Semua domain dalam suatu forest berbagi suatu Global Catalog yang sama
  • Semua domain dalam suatu forest terhubung dengan Trust Transitive Dua arah yg implicit
  • Tree dalam suatu forest mempunyai structure penamaan yang berbeda, menurut domain mereka.
  • Domain dalam suatu forest beroperasi secara independent, akan tetapi forest memungkinkan komunikasi keseluruh organisasi.
Active Directory 2003 - Forest Tree
Active Directory 2003 - Forest Tree

Structure Physical dari suatu Active Directory 2003
Struktur physical dari Active Directory 2003 mengandung object-2 berikut:
  • Domain controller, yaitu server yang mengoperasikan layanan inti dan sebagai wadah database active directory 2003. Karena suatu domain dapat berisi satu atau lebih domain controller, setiap domain controller dalam suatu domain mempunyai replica yang lengkap dari porsi domain suatu directory. Suatu domain controller hanya dapat melayani satu domain saja. Suatu domain controller juga melakukan authentikasi user yang sedang logon dan juga menjaga security policy dari suatu domain.
    • Setiap domain controller menyimpan copy lengkap dari semua informasi active directory untuk domain tersebut, mengelola setiap perubahan pada informasi tersebut, dan me-replikasikan setiap perubahan kepada domain controller lainnya yang ada dalam domain tersebut.
    • Semua domain controller dalam suatu domain secara automatis me-replikasikan informasi semua object dalam domain tersebut satu sama lain. Jadi hati-2 kalau update object, karena akan direplikasikan ke semua domain controller dalam domain tersebut. anda bisa mengatur interval replikasinya.
  • Sites, merupakan boundary replikasi yang dikonfigure untuk kepentingan authenticasi dan lokalisasi replikasi events. Suatu site merupakan kombinasi dari satu IP subnet atau lebih yang terhubung dengan link yang berkecepatan tinggi dan handal untuk melokalisasi sebanyak-2 nya traffic. Umumnya suatu site mempunyai boundaries yang sama seperti local area network (LAN). Perlu diketahui bahwa site bukanlah nagian dari namespace.
Hubungan Domain dan Site
Hubungan Domain dan Site
  • Partisi Directory, dirujuk juga sebagai Naming Context. Directory berisi partisi berikut:
    • Schema partisi, mendefinisikan object-2 yang bisa diciptakan dalam directory sekalian juga attribute-2 nya. Data Schema partisi ini sama untuk semua Domain dalam suatu Forest dan di replikasi kan ke semua domain controller dalam Forest.
    • Configurasi Partisi, menjelaskan penggunaan structure logical termasuk data seperti struktur domain atau topology replikasi.
    • Domain partisi, menjelaskan semua object khusus dari suatu domain dan tidak direplikasikan ke semua domain-2 lainnya. Akan tetapi, data direplikasikan ke setiap DC dalam domain itu.
    • Partisi Directory Applikasi, menyimpan data applikasi specific yang dynamis dalam Active Directory 2003. Anda bisa mengendalikan scope replikasi begitu juga penempatan replica nya, hal ini untuk effisiensi bandwidth dalam replikasi.
Structure Physical dari Active Directory 2003 dapat dijelaskan dengan diagram berikut ini.

Physical Structure - Active Directory
Physical Structure - Active Directory

Global Catalog dalam Active Directory 2003
Active Directory 2003 memudahkan kita sebagai user ataupun sebagai administrator untuk mendapatkan object-2 seperti file, printer, atau user dalam domain mereka. Akan tetapi untuk mendapatkan object diluar domain mereka dalam enterprise memerlukan suatu mekanisme dimana semua domain tersebut seolah berada dalam satu entitas. Suatu layanan Catalog berisi pilihan informasi tentang setiap object dalam semua domain dalam directory, yang sangat berguna saat melakukan pencarian dalam suatu enterprise. Global Catalog adalah layanan catalog yang diberikan oleh Active Directory 2003.
  • Suatu index cepat pada forest keseluruhan tidak pandang domain yang mana dalam forest itu yang mengandung data.
  • Secara default, forest secara keseluruhan menggunakan domain controller yang dibuat pertama kali dalam forest tersebut sebagai Global Catalog (GC)
  • Jika hanya ada satu domain controller dalam suatu domain, domain controller tersebut berfungsi sebagai Global Catalog.
  • Jika GC tidak tersedia disaat seorang user berusaha logon kedalam jaringan, maka user tersebut akan logon secara local saja pada komputer dimana dia logon. Akan tetapi tidak demikian kalau site tersebut diconfigure untuk cache Universal Group Membership lookups saat user berusaha logon. Jadi semua credential user yang pernah logon di site tersebut akan di simpan di cache, saat GC tidak tersedia maka user yang pernah logon di site tersebut sebelumnya, masih bisa mengakses jaringan di site tersebut.
  • Global Catalog dan Infrastructure Master tidak dapat berada dalam satu mesin. Mereka harus berada dalam satu site di mesin yang berbeda untuk memudahkan komunikasi yang cepat.
Replikasi Global Catalog
Replikasi Global Catalog

Process pencarian(query) dalam Global Catalog
Suatu query bisa berupa suatu permintaan informasi sesuatu kepada Globa Catalog yg dimaksudkan untuk mengambil, memodifikasi, ataupun menghapus object data dalam suatu AD. Berikut dijelaskan proses query dalam Global Catalog dengan mengacu pada gambar diatas.
1. Pertama kali suatu client mencari informasi lokasi dari Global Catalog server pada DNS server
2. DNS server melakukan pencarian lokasi dari suatu Global Catalog server dan kembali dengan informasi IP address dari server Domain Controller yang difungsikan sebagai Global Catalog.
3. Client kemudian melakukan query IP address dari Domain Controller yang difungsikan sebagai GC, dimana query dikirim ke port 3268 pada domain controller (DC), standard pencarian (searches) pada Active directory 2003 dikirim ke port 389.

4. Globa catalog server memproses query. Jika Global catalog berisi attribute dari object yang sedang dicari ada, Global Catalog kemudian memberikan respon pada client. Jika Global Catalog tidak berisi attribute dari object yang sedang dicari, maka query tersebut di rujuk ke Active directory.

Anda bisa mengkonfigure mana saja domain controller atau menambahkan domain controller yang di khususkan sebagai Global catalog. Saat mempertimbangkan domain controller mana yang akan di khususkan sebagai global catalog, putuskan berdasarkan kemampuan struktur jaringan anda untuk melakukan replikasi dan traffic query. Jangan diletakkan pada suatu site dimana link kepada client yang melakukan search quey kepadanya hanya selebar 64Kbps saja.

Lanjut ke Active Directory 2003 Bagian 2 yang akan membahas Fungsi-fungsi Flexible Single Master Operation (FSMO) dari Active Directory 2003.

IP Address Design

IP Address design Untuk Beberapa Site Dalam Corporate Anda
Salah satu task yang perlu kita lakukan dalam design jaringan adalah design IP address yang bisa kita aplikasikan kepada system jaringan kita baik untuk jaringan local LAN kita sampai jaringan antar LAN melewati koneksi WAN.

Perlunya IP address untuk komunikasi
Untuk bisa berkomunikasi pada suatu jaringan private ataupun pada jaringan public Internet, setiap host pada jaringan harus diidentifikasi oleh suatu IP address. kenyataan perlunya IP address bisa dipahami dalam kenyataannya bahwa:
  • Setiap segmen fisik jaringan memerlukan suatu address unik pada jaringan tersebut
  • Setiap host pada suatu jaringan memerlukan suatu IP address yang unik dalam segmen jaringan tersebut
  • IP address terdiri dari ID jaringan dan ID host
  • Class address dan subnet mask menentukan seberapa banyak IP address yang bisa dibuat dalam segmen jaringan tersebut
IPv4 – IP address version 4 – terdiri dari 32-bit number, biasanya ditulis dalam notasi decimal seperti 192.168.200.100.

IP Address bisa dikelompokkan dalam Class IP seperti dalam table dibawah ini, sementara dalam real world anda memerlukan hanya class A; Class B; dan Class C saja.

Tabel A
Class Type Start Address End Address Default mask Notes
Class A 1.0.0.0 127.255.255.254 255.0.0.0
Class B 128.0.0.0 191.255.255.254 255.255.0.0
Class C 192.0.0.0 223.255.255.254 255.255.255.0
Class D 224.0.0.0 239.255.255.254
Multicasting
Class E 240.0.0.0 255.255.255.254
For testing

IP address ini bisa dikelompokkan dalam dua golongan IP address:

1. Public IP address, adalah IP address yang secara global merupakan IP address yang unik yang terhubung dalam jaringan Internet. Untuk mendapatkan IP public ini anda harus menghubungi ISP anda untuk membeli suatu kelompok kecil IP public yang bisa anda gunakan untuk berkomunikasi keluar jaringan private anda.

2. Private IP Address, dibatasi oleh range tertentu yang bisa dipakai oleh jaringan private akan tetapi tidak dapat dilihat oleh public Internet. Internet Assigned Numbers Authority (IANA) telah menyediakan beberapa kelompok IP address private yang tidak pernah dipakai dalam global Internet. Tabel berikut ini adalah table Private IP address yang bisa anda gunakan dalam jaringan private anda, yang hanya bisa dipakai untuk komunikasi kedalam saja.

Tabel B
Class Type Start Address End Address
Class A 10.0.0.0 10.255.255.254
Class B 172.16.0.0 172.31.255.254
Class C 192.168.0.0 192.168.255.254

Untuk suatu host dalam jaringan private bisa berkomunikasi ke Internet maka memerlukan suatu server Proxy atau memerlukan suatu konfigurasi NAT – network address translation.

IP address bisa diberikan secara manual; secara dinamis oleh DHCP server; ataupun secara automatis dengan menggunakan Automatic IP Addressing (APIPA). Mulai Windows XP keatas, jika dalam suatu jaringan tidak diketemukan DHCP server, maka IP address akan didapat dari APIPA scheme. APIPA berada pada range IP address antara 169.254.0.1 sampai 169.254.255.254.

IP Address Khusus
Ada beberapa IP address yang mempunyai makna tertentu yang tidak boleh di pakai untuk IP pada host. Tabel berikut ini memberikan daftar IP address khusus

Tabel C
IP Address Pemakaian
0.0.0.0 Network address ini digunakan oleh router untuk menandai default route. Dengan default route kita tidak perlu mengisi routing table yang berlebihan. (beberapa jenis router yang lama menggunakan address ini sebagai broadcast address)
Semua bit pada porsi network pada suatu address adalah di set 0 Suatu address dengan semua bit dari porsi network dari suatu address di set 0 merujuk pada suatu host pada network “ini”, contoh: 0.65.77.233 – host specific pada network class A
0.0.77.52 – host specific pada network class B
0.0.0.69 – host specific pada network class C
Semua bits pada porsi host pada suatu address di set 0 Jika suatu address dimana porsi hostnya di set 0 berarti merujuk pada network itu sendiri, contoh: Network Class A address : 115.0.0.0
Network Class B address : 154.12.0.0
Network Class C address : 223.66.243.0
Semua bits dari porsi host dari suatu address di set 0 Jika semua bit pada porsi host pada suatu address di set 1, maka ini merupakan pesan broadcast untuk semua host pada network tersebut, contoh: 115.255.255.255 – merupakan pesan broadcast ke semua host pada network Class A 115.0.0.0
154.90.255.255 – merupakan pesan broadcast ke semua host pada network Class B 154.90.0.0
222.65.244.255 – merupakan pesan broadcast ke semua host pada network class C 222.65.244.0
127.0.0.0 Address network ini adalah di reserve untuk keperluan address loopback. (catatan: Address ini di exclude pada range address pada Class A ataupin Class B). sementara address 127.0.0.1 merujuk pada local host.
255.255.255.255 Address ini digunakan untuk mengindikasikan pesan broadcast dimaksudkan ke semua host pada networl ini.

Subnet Mask
Saya tidak membahas disini masalah subnet mask secara detail karena subnet mask bagi sebagian praktisi agak membingungkan dan memerlukan bahasan yang agak mendalam. Berikut ini merupakan catatan penting mengenai “Subnet mask”:
  • Mengidentifikasikan bagian dari suatu “network” / jaringan dan porsi “host” dalam suatu IP address
  • Subnet masks dipakai untuk membuat keputusan routing
  • Classfull subnetting
  • Variable length subnet masking (VLSM)
  • Protocol routing

Design Kasus Guinea
Seperti dalam kasus scenario sebelumnya, gambar berikut adalah diagram corporate yang terdiri dari tiga sites yang terhubung melalui koneksi WAN. Ketiga sites tersebut adalah Guinea Smelter (ada sekitar 200 hosts); Lumpur site (ada skitar 1000 hosts); dan Hongkong Headquarter (ada sekitar 450 hosts).
Ada baiknya memahami cara konversi IP address dari desimal ke biner dan sebaliknya disini.

IP Address Design - Corporate

IP Address Design - Corporate
Untuk ketiga sites tersebut Directur IT anda memberikan range IP private antara 192.168.100.1 sampai 192.168.107.254. Bagaimana anda akan mengaplikasikan range IP address tersebut kepada ketiga site diatas? Kita lihat terlebih dahulu kebutuhan IP untuk ketiga site tersbut.

1. Guinea site memerlukan sekitar tak lebih dari 200 host untuk saat ini, tapi untuk antisipasi ke perkembangan 5 tahun kedepan diperkirakan ada penambahan host / user sampai tidak lebih dari 400 hosts.
2. Hongkong Headquarter memerlukan IP sekitar 450 host tidak lebih untuk 5 tahun kedepan.
3. Lumpur site memerlukan IP lumayan besar untuk saat ini dan prediksi 5 tahun kedepan diperlukan IP sampai sekitar 1000 host tidak lebih.

Pertama kali kita lihat dulu susunan range IP address pada range 192.168.100.0 – 192.168.107.254 ini, mengingat jumlah host pada masing-2 site berada pada range di kelipatan 255 maka kita perlu perhatikan susunan IP pada octet ke tiga dari kiri yaitu 100 – 107. Kita tahu bahwa pada network Class C ini ada 254 host yang bisa dipakai, sehingga kalau kita memerlukan sejumlah host pada range antara 200-an sampai 500-an maka kita memerlukan satu bit lagi dari 8 bit class C ini yaitu 9 bit untuk menghasilkan 500-an host (2 pangkat 9 = 512). Dan jika kita memerlukan host sekitar 1000 maka kita ambil 2 bit lagi kekiri dari 8 bit Class C ini yaitu jadi 10 bit untuk mendapatkan host sekitaran 1000 host (2 pangkat 10 = 1024).

Tabel D
Network address Perhatikan octet ketiga dari kiri Notasi biner
192.168.100.0 100 0110 0100
192.168.101.0 101 0110 0101
192.168.102.0 102 0110 0110
192.168.103.0 103 0110 0111
192.168.104.0 104 0110 1000
192.168.105.0 105 0110 1001
192.168.106.0 106 0110 1010
192.168.107.0 107 0110 1011

Jika setiap site hanya membutuhkan host pada range dibawah 254 host maka kita tidak perlu repot-2 memikirkan pembagian IP, kita cukup memakai 24 bit pertama sebagai network address dan 8 bit sebagai host (2 pangkat 8 = 256) yaitu:

192.168.100.0/24 untuk site A (8 bit untuk host = 254 host)
192.168.101.0/24 untuk site B (8 bit untuk host = 254 host)
192.168.102.0/24 untuk site C (8 bit untuk host = 254 host)
dan seterusnya untuk site D; E; F; G; dan site H yang masing-2 mendapatkan 254 host, sehingga subnet mask yang dipakai masing-2 adalah 255.255.255.0.

Kebutuhan 400 host
Kembali pada kebutuhan IP diatas, untuk kebutuhan sekiran 400 IP kita membutuhkan 9 bit untuk host (2 pangkat 9 = 512) dan sisanya adalah untuk IP network yaitu 32 bit dikurangi 9 bit berarti 23 bit untuk network. Perhatikan bahwa untuk satu network semua bit harus sama, yang berubah adalah bit host.
Jadi untuk IP network (23 bit) pada IP network 192.168.100.0 kita tuliskan

Tabel E
192 168 100 sampai 101 0 sampai 254
1100 0000 1010 1000 0110 0100 0110 0101 0000 0000 => 1111 1110

Perhatikan pada kolom ketiga untuk 100 dan 101 bit yang berubah 1 digit terakhir saja, jadi angka 100 dan 101 ini bisa kita gunakan untuk range IP address dari 1 sampai 500-an. Begitu juga (perhatikan table D diatas) untuk angka 102 dan 103; 104 dan 105; dan 106 dan 107 merupakan pasangan yang bisa menghasilkan 512 host.

Jadi untuk site Guinea (saat ini hanya 200 host, 400 host 5 tahun kedepan) kita bisa tentukan untuk memakai IP pada range 192.168.100.0 sampai 192.168.101.254 atau lebih lajim ditulis dengan notasi:
192.168.100.0/23 dengan subnet mask 255.255.254.0

Perhatikan 23 adalah jumlah bit yang dipakai oleh network, sementara 9 bit untuk host.
Sementara untuk Hongkong Headquarter kita tentukan untuk memakai IP range antara 192.168.102.0 sampai 192.168.103.254 atau kita tulis dengan otasi:
192.168.102.0/23 dengan subnet mask 255.255.254.0
Kebutuhan 1000 hosts

Untuk kebutuhan IP sekitar 1000 host maka kita memerlukan 10 bit untuk host dan 22 bit untuk network. Perhatikan pada table D diatas, untuk 10 bit host maka perlu pinjam 2 bit di octet ketiga – jadi 22 bit yang tidak berubah adalah pasangan 4 angka pertama (100; 101; 102; 103) dan pasangan 4 angka kedua (104;105;106;107).

Karena 4 pasang pertama sudah kita pakai untuk Ginea dan Hongkong, maka kita bisa pakai untuk site Lumpur site pasangan angka kedua yaitu IP range:
192.168.104.0 sampai 192.168.107.254

Atau lajim kita tuliskan sebagai berikut (karena memakai 22 bit sebagai IP host):
192.168.104.0/22 dengan subnet mask 255.255.252.0
Jadi lengkaplah sudah design IP address untuk ketiga site di atas. Untuk bisa menghubungkan ketiga site diatas lewat koneksi WAN, maka kita memerlukan IP public.

Trendnet TEW-692GR 450Mbps Dual Band Router

Trendnet meluncurkan router terbaru paling cepat TEW-692GR dual band dengan kecepatan 450Mbps tiap band secara simultan

Awalnya saya heran kenapa Trendnet tidak meluncurkan produk router baru dengan kecepatan N750 dual band setelah peluncuran seri TEW-691GR dengan speed 450Mbps akan tetapi single band. Sementara pabrikan lain sudah bermunculan dengan kecepatan N750, artinya speed sampai 450Mbps pada 5GHz band dan sampai 300Mbps pada 2.4GHz band secara bersamaan. Sebut saja Linksys dengan seri E-4200 N750, Netgear dengan WNDR4000 N750 serta Belkin N750 DB.


Awal juni 2011 Trendnet meluncurkan produk andalan wireless router TEW-692GR dengan speed sampai 450Mbps tiap band secara simultan. Nyatanya Trendnet ingin menjadi yang pertama dalam peluncuran suatu produk tercepat saat ini seperti halnya pada saat peluncuran TEW-691GR yang mana merupakan produk wireless router tercepat pada single band 2.4GHz. Yang kemudian diikuti oleh D-Link dengan produk DIR-665 N450 dual band, akan tetapi tidak secara simultan melainkan selectable – anda memilih untuk beroperasi pada 2.4GHz band atau pada 5GHz band.

Linksys meluncurkan seri E terbarunya E4200 sekitaran Januari 2011 dan memasarkan produk tersebut sebelum Netgear memasarkan seri WNDR4000 N750 walaupun sudah dipamerkan pada pameran CES-2011. Sekitaran april 2011 Belkin juga meluncurkan seri terbarunya dengan speed N750 melengkapi seri pengganti pendahulunya  yang ternyata kurang mendapatkan respon positive di Amerika sendiri.

Apa Hebat nya Produk Ini
Trendnet TEW-692GR

Trendnet TEW-692GR merupakan wireless router pertama dengan kecepatan maksimum 450Mbps untuk setiap band nya yang bekerja secara simultan. Beberapa product laptop terbaru banyak  yang dilengkapi dengan Wi-Fi dengan standard wireless N450 yang bisa memanfa’atkan kecepatan koneksi wireless kepada router ini. Jika anda sudah terbiasa dengan wireless router dengan standard N150, N300, N450, N600 dan  juga N750 – maka mestinya seri router ini bisa disebut dengan seri wireless router N900 (450Mbps + 450Mbps).

Seperti generasi terbaru dari seri wireless router lainnya, TEW-692GR ini mendukung Wireless Protected Setup (WPS) yang memudahkan anda mengkoneksikan wireless clients (dengan fitur WPS) kepada jaringan router hanya dengan menekan tombol WPS. Router ini juga mendukung encrypsi wireless terkuat WPA/WPA2 sampai WPA2-Radius.

Gigabit Ethernet
Seperti halnya pada wireless router performa tinggi lainnya, TEW-692GR dilengkapi dengan port Gigabit pada ineterface LAN (4x) dan WAN (1x). Anda bisa memanfa’atkan port gigabit ini untuk dikoneksikan pada computer yang juga dilengkapi dengan port gigabit untuk mendapatkan throughput data yang maksimal.

Multiple SSIDs
Cukup menarik pada router ini dimana pada masing-masing band anda bisa membuat wireless virtual (SSID) sampai empat jaringan untuk menghasilkan total sampai delapan SSID. Selama ini kita tahu bahwa Netgear menyediakan Guest network untuk setiap band nya, jadi total empat SSID. Sementara Linksys dan Belkin sampai tiga SSID.

Akan tetapi sayangnya seperti halnya pada seri TEW-691GR sebelumnya, TEW-692GR tidak dilengkapi dengan port USB yang memungkinkan kita bisa koneksikan external storage (bisa berupa USB hard disk atau NAS) atau USB printer agar bisa di share lewat jaringan. Kalau saya masih terpikat dengan produk dari Asus RT-N56U Black Diamond walau dengan speed N600 tapi dilengkapi dengan dua buah port USB yang memunkinkan anda bisa sharing external storage dan printer secara bersamaan. Dengan absennya port USB ini lah kekurangan pokok dari wireless router ini. Akan tetapi sebagian user mungkin menginginkan kecepatan tinggi dibanding multi-fungsi dari sebuah router.

Kalkulasi Subnet Mask

Kalkulasi Subnet Mask, Subnetting, dan Default Subnet Mask

Pada artikel saya sebelumnya mengenai cara design IP address, saya tidak membahas secara detail mengenai subnet mask. Kali ini saya akan bahas bagaimana kita menghitung jumlah subnet mask dan jumlah hosts IP yang bisa dipakai dalam design IP address untuk jaringan local anda.

Seperti kita ketahui bahwa untuk address Class B yang kita pakai pada suatu jaringan akan memungkinkan kita memakai IP address sejumlah 65 ribuan hosts. Akan tetapi tidak ada satu jaringan yang bisa berisi host sejumlah itu dalam satu subnet tunggal, karena terbatasnya arsitektur jaringan yang ada. Untuk itulah cara yang paling aman adalah membagi satu jaringan tunggal tersebut kedalam banyak segmen jaringan dengan metoda subnetting.


Apa sih subnet itu? Subnet adalah sekelompok host (bisa komputer, switch atau lebih tepatnya piranti jaringan) pada satu segmen jaringan yang sama yang berbagi IP jaringan yang sama. Pada protocol TCP/IP umumnya, istilah jaringan dimaksudkan sebagai local area network. jaringan LAN bisa hanya mempunyai satu IP address jaringan tunggal, atau bisa saja jaringan yang memiliki banyak segmen jaringan dimana masing-2 segmen jaringan tersebut mempunyai address jaringan tersendiri. Subnet bisa juga diartikan sebagai pembagian satu address jaringan tunggal menjadi banyak address jaringan atau banyak subnet. Sebagai acuan kita, table berikut ini adalah Class address untuk jaringan private untuk membedakan dengan IP address public diluar range private address.

Class Type Start Address End Address
Class A 10.0.0.0 10.255.255.254
Class B 172.16.0.0 172.31.255.254
Class C 192.168.0.0 192.168.255.254

Kenapa harus dibagi menjadi subnet-2? Coba bayangin aja missal pada gambar dibawah ini, satu company mempunyai jaringan dengan address Class B yang bisa memuat ribuan host IP address sampai 65 ribuan pada satu segment jaringan tunggal. Bagaimana anda akan memaintainnya? Akan sangat susah sekali memeliharanya dan juga administrasinya. Sementara arsitektur jaringan fisik terbatas pada jumlah host yang bisa dimuat dalam satu jaringan fisik.

Single Subnet Mask

Single Subnet Mask
Cara terbaik adalah dengan cara membagi jaringan address Class B ini menjadi banyak kelompok host atau subnet-2 yang mudah dipelihara dan jauh lebih gampang administrasinya. Perhatikan gambar berikut, dimana Class B tadi dibagi-2 menjadi kelompok jaringan subnet yang berbeda.

Multiple Subnet

Multiple Subnet
Keuntungan dari Subnetting
Disamping memberikan tambahan address jaringan, subnetting sebuah jaringan memberikan banyak keuntungan berikut:

1. Mengurangi congestion / kebanjiran jaringan dengan cara mengarahkan traffic dan mengurangi sinyal broadcast. Kita tahu bahwa sinyal broadcast itu sebatas segmen jaringan, tidak melewati segmen yang lain.
2. Anda bisa mengisolasi masalah pada satu subnet, tidak melebar seperti jika anda hanya mempunyai satu jaringan tunggal yang besar
3. Mengurangi usage CPU dengan cara mengurangi jumlah traffic broadcast
4. Memperbaiki keamanan, keamanan bisa diberikan kepada subnet tertentu (dengan menggunakan extended access list pada network router) berdasarkan protocol atau address.
5. Anda bisa menggunakan media berbeda dengan menggunakan subnet yang berbeda untuk setiap media yang berbeda.

Subnet Mask
Suatu Subnet Mask adalah angka sebanyak 32 bit (dibagi menjadi 4 octet) yang meng-identifikasikan porsi address jaringan dari suatu IP address. sebagai tambahan, router menggunakan subnet mask untuk membedakan address subnet jaringan local dan address subnet jaringan remote.

Default Subnet Mask
Setiap Class IP address sudah termasuk default subnet mask nya. Dengan tidak adanya custom subnet mask, default subnet mask mendifinisikan pemisahan antara ID jaringan dan ID host. Untuk memahami konsep ini, bayangkan subnet mask sebagai mask (topeng) yang sebenarnya yang menutupi bagian dari suatu IP address. setiap komputer dan router menggunakan mask ini untuk menentukan ID jaringan dari setiap IP address yang harus dikirim. Bit-2 yang ditutupi topeng mask ini tidak menutupi identitas ID host.
Subnet Mask terdiri dari bit “1″ untuk setiap bit yang ditutupi. Dalam format decimal bertitik, setiap octet yang ditutupi oleh subnet mask memiliki nilai 255.


Topeng (Mask)
Default Subnet Mask
Class A
Network = 8 bits
Host = 24 bits
Class A menutupi octet pertama saja
Class A Subnet Mask
Class A Subnet Mask
255.0.0.0
Class B
Network = 16 bits
Host = 16 bits
Class B menutupi dua octet pertama
Class B Subnet Mask
Class B Subnet Mask
255.255.0.0
Class C
Network = 24 bits
Host = 8 bits
Class C menutupi tiga octet pertama
Class C Subnet Mask
Class C Subnet Mask
255.255.255.0

Custom Subnet Mask
Kebanyakan custom subnet mask menutupi bit-2 yang sama seperti pada default mask, dan kemudian menambah menutupi beberapa bit lagi pada octet berikutnya.

Tanpa suatu custom subnet mask, setiap komputer yang ada pada jaringan anda akan menjadi bagian dari segmen fisik yang sama. Dengan custom subnet mask anda bisa menciptakan beberapa subnet (segmen jaringan) tambahan. Jika anda menambahkan bit dari panjang jumlah bit default subnet mask, maka bit-2 itu menjadi bagian dari subnet address, akan tetapi mengurangi jumlah bit-2 yang bisa dipakai oleh host ID.
Seperti halnya default subnet maks, suatu custom subnet mask berkomposisi bit2 “1″ dari bit2 yang ditutupi. Dalam format decimal bertitik, setiap octet yang ditutupi oleh subnet mask bernilai 255. Nilai decimal dari sisa octet bervariasi tergantung jumlah bit yang dipakai oleh custom subnet mask.

Host pada TCP/IP mengidentifikasikan ID jaringan dari suatu IP address dengan menerapkan subnet mask kepada address. bit2 pada address yang ditutupi (dimask – ditopengi) menunjukkan porsi address jaringan, sementara bit2 yang tidak ditutupi adalah porsi address host.

Memilih Suatu Subnet Mask
Untuk mengkalkulasi subnet mask, pertama anda harus memutuskan terlebih dahulu berapa jumlah subnet (segmen jaringan) yang anda butuhkan. Jika anda mempunyai 10 kantor cabang, anda membutugkan setidaknya 10 subnet. Anda juga perlu memikirkan pertumbuhan di masa depan company anda berapa jumlah site (subnet) yang akan tumbuh mungkin 5 tahun atau 10 tahun kedepan. Berikut ini menjelaskan dua metoda untuk mengidentifikasikan angka subnet mask. Sebelumnya juga perlu anda memahami cara konversi IP address dari biner ke desimal dan sebaliknya.

Sebagai contoh company anda membutuhkan 10 subnet untuk jaringan Class B 162.199.0.0, nilai subnet mask yang harus anda gunakan berapa? Berikut adalah langkah-2 menghitungnya.
subnet-mask-calculate

1. Tentukan jumlah subnet mask yang dibutuhkan (hal ini = 10 untuk mewakili 10 kantor cabang anda) dan kemudian konversikan nilai ini kedalam bentuk biner (10 = 1010).
2. Dari nilai biner tersebut (1010) ganti semua bit menjadi “1″, dan untuk sisa octetnya tambahkan dengan “0″ (1111 0000) untuk melengkapi 8 bit (octet)
3. lalu conversikan ke decimal (1111 0000 = 240). Angka 240 ini adalah nilai custom mask
4. Kemudian langkah terakhir adalah menambahkan angka custom mask ini kepada default subnet mask (255.255.0.0 untuk Class B) sehingga custom subnet mask bernilai 255.255.240.0
Atau metoda kedua gunakan table berikut ini (ingat ini hanya satu octet yang dipakai sebagai custom mask):

Posisi Bit
8
7
6
5
4
3
2
1
Bit value
1
1
1
1
1
1
1
1
Decimal value (dari nilai 2 pangkat (n – 1) posisi bit)
128
64
32
16
8
4
2
1
Subnet mask value (2^n)
128
192
224
240
248
252
254
255
Max # subnet (2^m -2)
0
2
6
14
30
62
126
254

Misal untuk custom mask berikut 1111 0000 maka kita lihat dari table berada pada posisi bit ke 5, berarti custom subnet mask nya adalah 240 (jumlah nilai subnet mask bit ke 8 (= 128) ditambah nilai subnet mask ke 7 (=64) plus bit ke 6 (=32) plus bit ke 5 (=16) sama dengan total 240. Jadi jumlah subnet yang bisa dibuat adalah 14 subnet dengan masing-2 jumlah host (tergantung Class address, dalam hal ini Class B) sebanyak:
Subnet mask 255.255.240.0 (1111 1111 1111 1111 1111 0000 0000 0000) jumlah bit yang dipakai untuk subnet mask adalah 20 berarti sisa bit untuk host adalah 12 (32 -20), jadi jumlah IP yang bisa dipakai host adalah (2^m -2) = 4094 host untuk setiap subnet.

Jika masih bingung, jangan khawatir anda tidak sendirian, karena masalah IP adalah momok bagi sebagian praktisi IT apalagi kalau mau ujian CCNA. Download saja calculator subnet disini.
Setelah anda menyelesaikan nilai subnet mask, anda sudah juga perlu memastikan bahwa jumlah host yang ada pada subnet mask tersebut mencukupi untuk jaringan anda (jika hitungan anda benar, maka pasti klop antara subnet mask dan host yang ada pada jaringan tersebut).

Jaringan Private Virtual

Koneksi Jaringan Private Virtual Untuk Koneksi Remote Lewat Internet
Jaringan Private Virtual atau lebih kerennya Virtual Private Network (VPN) memungkinkan anda melakukan koneksi kepada jaringan private anda lewat Internet secara aman melalui traffic terowongan didalam paket-2 yang terenkripsi dengan aman. Koneksi jaringan private virtual merupakan solusi yang murah untuk menghubungkan remote site ber-sama-2 melalui jaringan public. Koneksi jaringan private virtual adalah jaringan logical yang secara fisik menyambung Internet.

Dengan koneksi Jaringan Private Virtual, pertama-2 paket private di enkripsi kemudian di-encapsulasi didalam suatu paket public yang ditujuka kepada remote server VPN. Informasi routing ini memudahkan muatan data private yang di enkripsi untuk dilewatkan dalam terowongan (tunnel) melalui jaringan public untuk mencapai titik tujuan. Setelah data yang diencapsulasi ini diterima disisi server VPN, server VPN kemudian mempreteli header public dan men-decripsi muatan data private tersebut.


Suatu fitur penting dari koneksi Jaringan Private Virtual ini adalah jaringan fisik public dimana data dikirim melewatinya, menjadi transparan pada kedua ujung komunikasi walaupun dalam kenyataannya data ini melewati beberapa hop router yang memisahkan kedua komputer tersebut lewat jaringan Internet satu sama lain seakan-akan hanya terpisah satu hop saja melalui koneksi Jaringan Private Virtual.

Perhatikan dalam gambar dibawah ini bahwa server VPN sebagai koneksi remote harus menggunakan IP public terdaftar sementara jaringan private menggunakan skema IP address private untuk komputer2nya, baik IP address manual maupun IP address yang diterima dari system DHCP server.
Diagram Jaringan Private Virtual

Diagram Jaringan Private Virtual
Untuk membuktikannya, dalam Jaringan Private Virtual ini anda bisa menggunakan command “tracert” dari masing-2 komputer dan akan terlihat bahwa kedua komputer terpisan hanya satu hop saja.

Dari komputer A (yang mempunyai IP address pada konfigurasi property TCP/IP nya adalah 198.200.100.5)
C:\> tracert computerB
Tracing route to computerB [198.200.200.13]
Over a maximum 30 hops:
1 460ms 460ms 580ms computer[198.200.200.13]
Trace complete
Jika dari Komputer B:
C:\>tracert computerA
Tracing route to computerA [198.200.100.5]
Over a maximum 30 hops:
1 460ms 460ms 580ms computer[198.200.100.5]
Trace complete

Akses remote VPN
Koneksi remote akses Jaringan Private Virtual memudahkan para karyawan yang bekerja dari rumah melakukan koneksi kepada jaringan corporate. Didalam jaringan infrastruktur Windows 2003, administrator sebelumnya harus mendefinisikan berikut ini:
  • Policy remote akses yang memberikan hak akses melalui koneksi Jaringan Private Virtual.
  • Membuat Group khusus misal group VPN-Group untuk group mereka yang berhak melakukan koneksi remote.
  • Melakukan edit profile dari masing-2 user dalam group VPN-Group untuk mengijinkan akses remote.
Pada sisi komputer client VPN ini, atau laptop yang menggunakan Windows OS, untuk melakukan koneksi Jaringan Private Virtual user menggunakan wizard “New Connection” untuk melakukan koneksi ke server remote Jaringan Private Virtual. Clients PC kemudian melakukan koneksi ke Internet (apakah lewat dial-up atau melalu Internet broadband) dan membentuk koneksi VPN ke server VPN remote.

Tapi jika piranti VPN dipakai (missal PIX firewall, Netgear VPN Concentrator), CD instalasi client yang datang bersama saat pembelian bisa dipakai untuk instalasi client VPN. Tentunya setelah infrastruktur Jaringan Private Virtual sudah terbentuk dengan konfigurasi IP address public yang dipakai pada server VPN remote.

Extranet atau Jaringan Private Virtual router ke router
Pada koneksi Jaringan Private Virtual extranet, dua kantor remote terhubung satu sama lain dengan menjalankan fungsi server VPN Routing and Remote Access (RAS). Setiap server VPN ini masing-2 bisa melakukan inisiasi atau menjawab koneksi VPN. Hubungan VPN ini tergantung pada authorisasi interface demand-dial, bukan tergantung pada authorisasi masing-2 individu user. Untuk setiap interface VPN deman-dial, anda harus melakukan satu set konfigurasi credensial “dial-out” termasuk suatu user-name dan password, domain, dimana secara default user-name nya adalah nama interface demand-dial itu sendiri. User-name harus juga cocok dan klop dengan interface deman-dial pada server VPN penerima.

Protocol-2 Jaringan Private Virtual
Pada system Windows 2003, ada tersedia dua macam standard protocol tunneling.
1. PPTP (Point-to-Point Tunneling Protocols)
2. L2TP/IPSec (Layer 2 Tunneling Protocols / IP Security)
PPTP (Point-to-Point Tunneling Protocols)
Berikut adalah ringkasan dari protocol PPTP pada jaringan private virtual.
  • Keamanan melalui paket-2 enkripsi PPTP ini kurang aman dibanding dengan jenis protocol L2TP/IPSec.
  • Tidak memerikan integritas data (yaitu semacam suatu bukti bahwa data tidak dimodifikasi selama dalam transit pengiriman)
  • Tidak memberikan data authentikasi asli/asal (semacam bukti bahwa data dikirim oleh user yang authorized)
  • Berdasarkan pada ektensi protocol Point-to-point (PPP)
  • Mendukung enkripsi melalui enkripsi Microsoft Point-to-Point Encryption (MPPE)
  • Menggunakan user-name dan password untuk authentication
  • Pilihan yang bagus untuk kemampuan dasar VPN
    • Protocol PPTP ini sudah ada beserta didalam semua client OS Windows modern
    • Tidak memerlukan suatu public-key infrastructure (PKI)
L2TP/IPSec (Layer 2 Tunneling Protocols / IP Security)
Pada jenis koneksi L2TP/IPSec pada jaringan private virtual, protocol L2TP memberikan terowongan (tunnel) VPN, protocol Encapsulation Security Payload (ESP) yang merupakan suatu feature dari IPSec memberikan enkripsi data.
  • L2TP/IP merupakan protocol standard industry tunneling, yang pada Windows pertama kali dipakai sejak Windows 2000
  • Encrypsi diberikan oleh IPSec
  • Setting yang di recommendasikan adalah pemakaian certificate public-key infrastructure (PKI), akan tetapi bisa juga memakai kunci pre-shared
  • keuntungan
    • Data confidentiality
    • Integrity
    • Authentication
  • Pada Windows 2000, XP, Server 2003, Vista telah dilengkapi dengan built-in L2TP/IPSec client. Microsoft L2TP VPN client tersedia pada internet untuk di download.
Certificates komputer dan L2TP/IPSec
Pada kebanyakan koneksi Jaringan private virtual berlandaskan L2TP, authenticasi komputer dilaksanakan dengan menggunakan infrastruktur certificate. Untuk bisa berhasil pada implementasi jenis VPN ini, anda harus menginstall certificate komputer yang di-keluarkan oleh Certificate Authority (CA) yang sama pada masing-2 client VPN dan server VPN.

Preshared key adalah string shared dari jenis plain-text yang digunakan untuk meng-enkripsi dan men-dekripsi komunikasi IPSec. Preshared keys ini tidak dimaksudkan untuk authenticasi yang aman, untuk itu makanya hanya boleh dipakai untuk keperluan testing saja.

Perangkat jadi VPN
Ada banyak perangkat VPN jadi tersedia di pasaran sekarang ini yang sangat mudah instalasinya seperti NETGEAR ProSafe SSL VPN Concentrator 25 – SSL312. Perangkat Jaringan private virtual ini bisa mendukung koneksi bersamaan sebanyak 25 tunnel untuk organisasi jaringan kecil dan menengah.
NETGEAR ProSafe® VPN Firewall FVX538 dengan dua port 10/100 WAN, mengijinkan anda membangun koneksi WAN redundansi. Perangkat ini juga berisi 8 port LAN 10/100 Mbps autosensing dan satu Gigabit port LAN.

Untuk solusi SOHO (small office home office – alias kantoran kecil dirumah) anda yang lebih ekonomis, anda bisa menggunakan perangkat firewall D-Link DIR-330 NetDefend 802.11G Wireless VPN Firewall 8 4-Port 10/100Mbps Switch.

Kebanyakan wireless router (yang sering dipakai pada jaringan wireless dirumahan) sekarang ini sudah termasuk didalamnya kemampuan fungsi VPN-Pass-through seperti Linksys WRT610N, DIR-655 D-Link dan lain-2. Tidak cuma itu, hampir semua produk wireless router mempunyai fitur firewall yang berfungsi sebagai network address translation (NAT) dan stateful packet Inspection (SPI) disamping dengan fitur keamanan koneksi wireless terkini yaitu enkripsi Wi-Fi Protected Access (WPA).

Instalasi DHCP Server

Cara Melakukan Setup Dan Konfigurasi DHCP Server, Konfigurasi Scope IP Address, Dan Authorisasi DHCP Server Pada Suatu Infrastruktur Jaringan

Pada artikel sebelumnya sudah dibahas tentang pentingnya peran DHCP server dalam infrastruktur jaringan windows 2003, begitu juga studi kasus dalam implementasi jaringan windows 2003 juga telah disinggung tentang kebutuhan sebuah DHCP server pada site Guinea Smelter dengan konfigurasi sebagai berikut:

Server Name: GUISML-HR-DHCP1 IP Address: 192.168.101.240/23
DNS servers: 192.168.101.253 dan 192.168.101.252 Scope IP Address: 192.168.100.1 – 192.168.101.254
Subnet mask: 255.255.254.0
Default Gateway: 192.168.101.254
Exclusion: 192.168.101.200 – 192.168.101.254

Perhatikan notasi /23 pada penulisan IP address diatas yang telah dibahas pada design IP address yang berarti jumlah bit “1” untuk subnet mask 255.255.254.0 sebanyak = 23.


Setup DHCP server
Windows server dimana anda akan fungsikan sebagai DHCP server harus diberikan IP address statis yang juga berada pada subnet yang sama dengan konfigurasi Scope DHCP server.
Sebelum sebuah server windows bisa difungsikan sebagai DHCP server, maka pertama kali yang harus dilakukan adalah instalasi ‘DHCP server role’ terlebih dahulu. Bagaimana caranya?
Anda harus logon sebagai administrator – misal sebagai member dari domain local security group ‘DHCP Administrator’ atau member dari global group ‘Domain admin’ untuk bisa install dan me-manaje DHCP server.

DHCP server role tidak diinstall by default dalam windows, maka kita harus install terlebih dahulu role ini.
Klik Start => pilih ‘Manage Your Server’ => klik ‘Add Or remove a role’ => pilih ‘DHCP role’ => kemudian klik ‘Next’ untuk memulai instalasi role DHCP server, biarkan instalasi sampai selesai.
Atau anda juga bisa menggunakan ‘Windows component wizard’, buka ‘Control panel’ dan dobel klik ‘Add and Remove Programs’ => ‘Add / Remove Windows Component’ => di dalam Networking Services, component DHCP ada dalam sini bersama component DNS.

Setelah selesainya installation wizard anda bisa melakukan verifikasi kalau services DHCP server sudah terinstall dengan benar, dengan jalan membuka tool console administrative DHCP. Untuk mengakses console DHCP, Klik Start => Administrative Tools => DHCP
Dari console DHCP ini anda bisa melakukan konfigurasi DHCP dan memanagenya secara virtual semua fitur yang berhubungan dengan konfigurasi DHCP server anda termasuk Scope, Exclusion, Reservation, dan juga Options.

Authorisasi Server DHCP
Jika DHCP server ini akan di integrasikan kedalam jaringan Active Directory, maka harus di Authorisasi. Yang bisa di Authorized hanyalah domain controller dan member server yang berpartisipasi kedalam active directory. Dan DHCP server pertama kali yang ada dalam suatu system active directory haruslah yang authorized. DHCP server yang ada pada stand-alone server atau workgroup (tidak di Join domain) yang menggunakan Windows server 2000 atau Windows server 2003, tidak bisa diauthorized dalam jaringan active directory. Akan tetapi bisa coexist dalam jaringan ini selama tidak di deploy pada suatu subnet yang ada DHCP server yang sudah authorized, DHCP server ini biasa disebut rogue server. Akan tetapi konfigurasi seperti ini tidak direkomendasikan. Dan jika rogue DHCP server mendeteksi adanya DHCP server yang authorized pada subnet yang sama, maka secara automatis DHCP server ini akan berhenti melayani pemberian IP address kepada clients.

Untuk melakukan authorisasi DHCP server cukup klik kanan pada node DHCP server ini dan pilih Authorize. Akan anda harus menjadi member global security group Enterprise Admins untuk bisa melakukan authorisasi server DHCP.

Konfigurasi Scope
Scope dalam DHCP server adalah pool IP address didalam suatu logical subnet yang bisa diberikan / dipinjamkan kepada clients, seperti 192.168.100.1 sampai 192.168.101.254. suatu IP address yang ditawarkan kepada suatu clients disebut sebagai suatu ‘lease’, dan lease ini akan menjadi active dengan periode waktu tertentu. Clients harus melakukan pembaharuan ‘lease’ jika sudah mencapai 50% periode masa pinjam IP (defaultnya adalah 8 hari). Anda juga bisa secara manual memperbaharui lease IP address ini dengan menggunakan command: ipconfig /renew pada windows prompt.

Untuk membuat scope lakukan klik kanan pada node DHCP server dan pilih ‘new scope’ pada menu Action. Sekaligus anda juga bisa configure fitur-fitur lainnya yaitu:
  • Scope Name Page, anda bisa memberikan nama scope
  • IP Address range page, anda bisa memberikan mulai dan akhir dari cakupan IP address dalam scope ini.
Instalasi DHCP - New Scope Range
Instalasi DHCP - New Scope Range
  • Add Exclusions page, anda bisa memberikan range IP address exclusive yang tidak dipinjamkan kepada clients didalam range scope IP address. misalkan dicadangkan untuk piranti dengan MAC address tertentu.
Instalasi DHCP Server - Exclusion range
Instalasi DHCP Server - Exclusion range
  • Lease duration page, anda bisa menyetel lamanya masa pinjam pakai IP address kepada clients.
Selain konfigurasi Scope diatas, anda juga bisa melakukan konfigurasi Option berikut ini pada page-2 berikutnya dalam wizard instalasi scope ini atau anda bisa melakukannya nanti (setelah selesai instalasi wizaed ini).
Catatan: Jika anda memilih untuk melakukan setting Option setelah selesai wizard, maka anda tidak diberikan kesempatan untuk mengaktifkan scope ini, jadi anda harus melakukan pengaktifan secara manual sebelum scope ini bisa berfungsi.
Apa saja scope option yang bisa diisi?
  • Router (Default Gateway) page, ini adalah opsional untuk memberikan default Gateway Address kepada clients
  • Domain Name and DNS Servers page (opsional), anda bisa memberikan parent domain dan juga DNS server kepada clients.
Instalasi DHCP server - DNS Server Option
Instalasi DHCP server - DNS Server Option
  • WINS server page (opsional), untuk memberikan IP address WINS server. clients menggunakan WINS server untuk resolusi NetBIOS name kepada IP address.
  • Activate Scope page (opsional), pilihan apakah anda menghendaki scope IP ini akan diaktifkan begitu wizard ini selesai.
Semua scope option ini bisa di modifikasi nantinya setelah selesai instalasi wizard melalui console DHCP.

IP Address Range
Anda bisa memasukkan semua IP address dalam scope pada subnet dimana anda mengaktifkan DHCP server, akan tetapi anda juga harus segera meng-exclusion kan semua IP address yang dipakai secara statis kepada semua server atau piranti jaringan lainnya.

Anda juga bisa memilih untuk membatasi IP address scope sampai pada batas dimana IP address dipakai untuk keperluan pemberian IP address statis kepada servers. Misalkan anda akan mencadangkan semua pemakaian IP address statis dari 192.168.101.200 sampai 192.168.101.254, maka scope anda harus berakhir sampai pada 192.168.101.199 saja. Jadi anda tidak perlu repot-2 membuat IP address exclusion.

Konfigurasi DHCP Server

Pentingya DHCP server Pada Infrastruktur Jaringan Windows 2003 

Bersama dengan Domain Name System (DNS), Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) merupakan pondasi dasar dari infrastructure Jaringan Windows 2003 atau Windows 2000. DHCP server memberikan configurasi IP secara dinamis kepada hosts yang ada dalam jaringan anda agar bisa saling berkomunikasi satu sama lain. Seperti yang telah dibahas sebelumnya dalam design IP address, untuk bisa berkomunikasi pada suatu jaringan private ataupun pada jaringan public Internet, setiap host pada jaringan harus diidentifikasi oleh suatu IP address.

Buat apa sich sebenarnya DHCP server ini? DHCP sangat dibutuhkan untuk mengurangi kompleksitas konfigurasi IP pada computer. Bayangkan saja kalau anda sebagai administrator jaringan dalam suatu business yang mempunyai sekitar 1000 computer dan anda tahu bahwa setiap computer tersebut membutuhkan konfigurasi IP yang unik. Kalau anda harus melakukannya manual satu persatu …wah bakal keriting tuch jari, tapi jangan kawatir bisa direbonding kok tuch jari. Belum lagi kalau ada perubahan konfigurasi missal perubahan IP pada DNS atau WINS, atau perubahawan gateway address; maka andapun harus mengubahnya satu persatu lagi. Itu pun kalau berjalan mulus kalau salah ketik saja dan terjadi IP yang sama maka IP conflict tak terhindarkan dan anda harus mencarinya dan mengubahnya.


Dengan cara memberikan sewa IP dari database sentral, DHCP server secara automatis mengelola IP address assignment termasuk default Gateway; Subnet mask; DNS server IP; WINS dan juga beberapa setting penting lainnya pada client computer dalam jaringan anda. Berikut ini dijelaskan proses leasing IP (minjam IP ke DHCP server oleh client computer).
1. DHCP Client mengirimkan pesan broadcast kejaringan suatu pesan paket yang namanya
    DHCPDISCOVER untuk mencari kalau ada DHCP server dalam jaringan tersebut

2. DHCP Server yang ada pada jaringan tersebut membalas dengan cara memberikan respon dengan paket DHCPOFFER

3. Kemudian client computer menerima tawaran DHCP server ini dengan mengirim paket konfirmasi  DHCPREQUEST
4. DHCP server kemudian merespon balik dengan mengirim paket DHCPACK

5. Setelah umur sewa mencapai 50% dari masa sewa (biasanya secara default DHCP server memberikan lease period selama 8 hari), client computer tersebut melakukan perpanjangan sewa langsung ke DHCP server dengan mengirim paket DHCPREQUEST

6. DHCP server pun menerima ijin perpanjangan sewa IP ini dengan sinyal paket DHCPACK lagi
Berikut beberapa catatan penting mengenai DHCP server:

Jika DHCP server dalam suatu jarngan tidak diketemukan, maka suatu computer secara automatis akan mengadopsi IP address dari konfigurasi yang ada pada “alternate configuration”, dan jika tidak diketemukan maka computer tersebut akan menerima IP address secara automatis dari skema APIPA (Automatic Private IP Addressing) yang berada pada range address 169.254.0.1 until 169.254.255.254. APIPA ini merupakan skema IP address private yang tidak di route ke Internet.

Untuk DHCP server bisa melakukan tugasnya memberikan sewa IP address kepada client komputer, maka seorang administrator harus mendefinisikan scope IP address, suatu pool IP address. seperti dalam scenario diartikel mengenai design IP address, dimana Guinea Smelter ditentukan untuk memakai IP address antara 192.168.100.1 sampai 192.168.101.254 atau secara lazim ditulis 192.168.100.0/23, maka anda harus memasukkan IP pool pada rentang IP address tersebut dengan default subnet mask 255.255.253.0. Tentunya anda juga harus memberikan exclusion IP address yang bakal dipakai secara manual oleh beberapa piranti jaringan seperti IP address untuk router interface yang berada pada jaringan trusted private anda; beberapa server seperti DNS atau domain controller; server DHCP anda sendiri ataupun IP address static untuk beberapa Switch anda agar bisa di manage remotely dengan mudah.

Client computer akan menyewa IP address selama rentang waktu tertentu yang ditentukan oleh DHCP server. Jika masa sewa sudah menginjak 50% dari masa sewa, maka client computer tersebut akan memperbaharui masa sewa langsung ke DHCP server IP address yang sama. DHCP server akan memberikan masa sewa untuk periode sewa berikutnya.

DHCP Scope
DHCP scope adalah suatu IP address pool dalam suatu logical subnet seperti 192.168.100.1 sampai 192.168.100.254, yang bisa diberikan oleh DHCP server tersebut kepada client computer pada subnet tersebut. Scope IP ini sangat penting bagi DHCP server untuk memanage distribusi dan pemberian IP address sekalian konfigurasi parameter penting lainnya kepada client computer dalam jaringan.

Scope DHCP server menspesifikasikan rentang IP address yang tersedia untuk disewakan kepada clients computer. suatu IP address dalam scope yang sudah didefinisikan dan ditawarkan kepada client PC disebut suatu “lease”. Setiap “lease” mempunyai masa sewa tertentu dan client computer tersebut secara periodic harus memperbaharui masa sewa IP yang sama tersebut.

Suatu range tertentu bisa diset exclusion dalam suatu range scope yang telah didefinisikan jika anda sebagai admin tidak menginginkan range IP address tersebut disewakan kepada client. Exclusion range ini memastikan bahwa DHCP server tidak akan menawarkannya kepada client.

DHCP server juga bisa menyediakan IP address khusus untuk diapkai oleh device network dengan MAC address tertentu. Jadi anda bisa mencadangkan pemakaian IP address untuk MAC address tertentu. Fitur ini sangat bagus untuk dipakai oleh beberapa server; printer; dan piranti lainnya yang memerlukan IP address static.

Perlu diketahui bahwa DHCP server ini bersifat broadcast, sementara router secara default memblokir paket broadcast, maka DHCP tidak bisa melewati router. Untuk bisa melewatkan broadcast paket DHCP ini anda memerlukan piranti router yang compliant dengan RFC1542 atau DHCP relay agent untuk mem-forward paket broadcast dari DHCP ini.

Rumus keseimbangan beban (load balance)
Untuk memberikan fault tolerance pada layanan DHCP server dalam suatu subnet yang diberikan, anda bisa meng-konfigure dua DHCP server untuk melayani IP address pada subnet yang sama. Dengan membuat dua DHCP server, jika salah satu server tidak tersedia atau tidak berfungsi, DHCP server lainnya bisa mengambil alih tugas dan menlanjutkan penyewaan IP address kepada client yang membutuhkan atau memperpanjang sewa. Untuk menseimbangkan beban yang dipakai dalam hal ini, good practicenya adalah memakai rumusan 80/20 dalam membagi beban IP scope dari kedua server. Jika DHCP server #1 dikonfigure dengan IP address 80% ketersediaan, maka DHCP server #2 bisa dikonfigure dengan IP address sisanya yaitu 20%.
Sebagai contoh dalam scenario kita di Guinea Smelter dimana IP address range ditentukan antara 192.168.100.1 sampai 192.168.101.254, dan anda juga menentukan pemakaian static address antara IP 192.168.101.200 sampai 192.168.101.254 maka anda harus membuat Scope address antara 192.168.100.1 sampai 192.168.101.199 dengan subnet mask 255.255.253.0 untuk kedua DHCP server. Agar supaya kedua DHCP server comply dengan aturan 80/20, kedua DHCP server harus didefinisikan dengan scope range yang sama, akan tetapi exclusion range berbeda. Untuk DHCP server #1 dengan load sekitar 80% dan DHCP server #2 dengan load 20%.

DHCP #1
  • Scope 192.168.100.1 sampai 192.168.101.199
  • Exclusion range: 192.168.101.109 sampai 192.168.101.199
DHCP #2
  • Scope 192.168.100.1 sampai 192.168.101.199
  • Exclusion range: 192.168.100.1 sampai 192.168.101.108
Dengan aturan 80/20 ini diharapkan kedua DHCP server bisa melayani kebutuhan Clients dengan fault tolerant.

Konfigurasi Client Computers
Untuk konfigurasi client agar bisa menerima IP address secara automatic dari DHCP server, maka anda perlu mengkonfigurasi property TCP/IP dari LAN connection computer anda untuk bisa menerima IP dari DHCP server dengan memilih “Obtain an IP address Automatically” dan juga pada setting “Obtain DNS server Address Automatically”.

Migrasi dari konfigurasi APIPA atau “Alternate”
Jika suatu client computer telah dikonfigure untuk menerima IP address automatically begitu juga DNS server addressnya, dan network tidak menggunakan ICS (Internet Connection Sharing), anda cukup melakukan pembaharuan konfigurasi IP address (renew) agar menerima konfigurasi dari DHCP server.
Untuk memperbaharui IP address, ketikkan di command prompt:
C:> ipconfig /renew
Alternative nya, anda bisa restart computer anda dan konfigurasi IP dari DHCP server akan diterapkan saat computer reboot.

Mirasi dari konfigurasi ICS connection
ICS adalah koneksi sharing dari dial-up pada server yang memberikan akses Internet ke client computers dalam Jaringan dan secara automatic meng-konfigure client computer dengan suatu IP address pada subnet range 192.168.0.x. Karena konfigurasi ini akan bersaing dengan dengan layanan DHCP server, anda harus menghapus konfigurasi ICS pada server dan restart computer server sebelum instalasi component Windows DHCP atau menambah role DHCP server.

Akan tetapi procedure diatas tidak jarang tidak berhasil seperti yang diharapkan. Secara teori jika computer sudah di-setup untuk menerima IP address secara automatically, tidak ada lagi yang perlu dikonfigure kecuali cukup dengan reboot computer maka dia akan mendapatkan IP address dari DHCP server. Akan tetapi dalam prakteknya anda akan mendapati bahwa client computer dari ICS akan tetap memegang IP address dari konfigurasi ICS walaupun layanan DHCP server sudah di berikan. Untuk mengatasi hal ini, yang perlu anda lakukan adalah dengan memancing computer tersebut dengan memberikan IP statis secara manual setelah konfigurasi ICS dihapus; prosedur ini akan memutus koneksi ICS. Restart computer tersebut kemudian setelah itu anda kembalikan setting property dari TCP/IP nya untuk menerima IP address automatis dengan memilih opsi “Obtain an IP address automatically” dan juga “obtain DNS address automatically”. Dengan cara ini komputer anda akan migrasi dengan bersih untuk menerima IP address dari DHCP server segera setelah di reconfigure untuk menerima IP secara automatis.